Info Berita dan Pemasangan Iklan

Info Berita dan Pemasangan Iklan Hubungi : 0812 7296 12 11 (WA) Instagram : beritasumsel_com (DM)

Nggak Usah Makan Nasi Goreng di sini, jika Anda ke Pasar Tanjung Raja

Inilah penampakan warung nasi "Uju Lan" yang berlokasi di Pasar Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir. Foto diambil Kamis (7/7/2016)
BERITA-SUMSEL.COM, OGAN ILIR --- Berhati-hatilah bila Anda ingin mencari makan di malam hari di Pasar Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir, apalagi bila anda adalah pendatang dan memiliki gaya bicara bukan bahasa setempat. Sebab ada satu warung makan yang acapkali mencoba mengambil keuntungan lebih dengan cara yang kurang baik. Warung yang dimaksud adalah Warung " Uju Lan" yang menyediakan Nasi Goreng dan Bandrek. Warung ini tepat berada di dalam lokasi pasar Tanjung Raja, biasanya buka mulai sore hari hingga malam hari.

Pengalaman kurang mengenakkan dialami Saprida (40) warga Bangka yang sedang mudik ke kampung halamannya Tanjung Raja. Ia menceritakan kejadian yang dialaminya kamis (7/7/2016) lalu. Bosen dengan menu lebaran, ia dan delapan anggota keluarganya mencoba menu lain, yakni makan nasi goreng di warung yang di maksud. Namun ia terkejut saat akan membayar sembilan piring nasi goreng dan tiga es teh yang mereka pesan tadi, sebesar 150 ribu rupiah dengan rincian satu piring dihargai 15 ribu rupiah, dan satu gelas es teh seharga 5 ribu rupiah.

Hardi (33) adik Saprida merasa janggal dan menganggap nasi goreng itu kemahalan. Sebab saat ia makan ia sempat melihat pembeli lain membayar 10 ribu untuk sepiring nasi goreng tersebut, kemudian ia sempat menanyakan ke pelayan lainnya juga mengatakan harganya 10 ribu. Merasa dibohongi, sang adik langsung menemui kasir tadi, namun ia tetap berkilah harga nasi gorengnya memang 15 ribu, pelayan dianggapnya orang baru dan tidak tahu harga.

Tak ingin larut dalam perdebatan, Saprida pun mengajak Hardi keluar warung tersebut. Namun karena penasaran, ia sempat ngobrol dengan warga sekitar warung, ia mendapatkan informasi bahwa memang warung itu sering menaikkan harga nasi goreng seenaknya, apalagi bila jelas-jelas konsumen yang datang merupakan warga pendatang. Hardi pun baru tersadar jika tadi ia bersama keluarganya tadi berinteraksi menggunakan bahasa bangka. Jadi kasir tadi mencoba mengambil keuntungan dengan menaikkan harga 50 % dari harga sebenarnya. Mudah-mudahan pemilik warung itu sadar apa yang mereka lakukan itu salah dan merugikan orang lain, serta calon pembeli agar dapat berhati-hati bila membeli nasi goreng di tempat itu.

(Kamuz)

Tidak ada komentar