Info Berita dan Pemasangan Iklan

Info Berita dan Pemasangan Iklan Hubungi : 0812 7296 12 11 (WA) Instagram : beritasumsel_com (DM)

SELAMAT ULTAH TVRI SUMSEL : Mengembalikan Marwah TVRI Sumsel

Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.
(Dosen Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah)
       
BERITA.SUMSEL.COM, Palembang- Bagi yang saat ini berusia 40 tahun ke atas, mungkin masih ingat bagaimana situasi di era 1980-an apalagi di masa sebelumnya. Ingatan tentang bagaimana uniknya upaya memenuhi keinginan untuk menonton televisi. Numpang ke tetangga sebelah rumah, bahkan ada yang sampai ke tetangga sebelah desa/kampung. Bagi yang tinggal di pedesaan, mengandalkan Accu/baterai untuk menghidupkan TV juga suatu kenangan tak terlupakan. Sementara yang diperkotaan, sarana TV umum juga masih sangat mudah ditemui. Ramai-ramai nongkrong dikelurahan, pos ronda, atau tempat lain yang disediakan. Apa yang ditonton? TVRI, itulah rajanya saat itu. Dikatakan raja, karena memang itulah satu-satunya yang ada. TV Swasta baru muncul sekitar tahun 1990-an, itupun masih sangat terbatas.

Tapi itu dulu, kenangan masa kecil bagi saya. Sekarang semua sudah berubah. Menonton TV bisa dimana saja, di rumah, mobil, dikantor, di pasar, dimanapun. Bahkan sambil berjalanpun TV bisa dilihat. Adanya teknologi internet dengan Streaming TV memungkinkan semuanya dilakukan. Era digital sudah menghampiri, dan keran kebebasan informasi juga sudah dibuka. Alhasil, pilihan bukan lagi hanya pada TVRI semata, pilihan TV Swasta sudah sangat banyak. TVRI pun kemudian seakan-akan menjadi pilihan nomor kesekian dari minat pemirsa. Itulah realitas sekarang.

Posisi TVRI sebenarnya sangat vital, apalagi dalam konteks keterbukaan dan kebebasan informasi saat ini. Lembaga Penyiaran Publik (LPP), yang dulunya bernama Perusahaan Jawatan dan kemudian Perseroan Terbatas, adalah lembaga informasi yang pendanaannya dibiayai oleh APBN. Sumber dana ini berarti kehidupan TVRI ditunjang oleh dana publik yang dikelola pemerintah. Oleh karena itu juga, dulunya dikenal istilah bahwa TVRI adalah TV nya pemerintah. Tudingan yang sering muncul, TVRI adalah corong pemerintah.

Tetapi itu dulu, saat semua kendali masih dalam tangan pemerintah. Selepas orde baru, situasi sudah berubah. Sumber dana bagi TVRI memang tidak berubah, tetap dari APBN, tetapi apa yang disuarakan, materi yang disiarkan, tak lagi harus seirama dengan pemerintah. Narasumber di TVRI ataupun program acara TVRI boleh-boleh saja, atau setidaknya, ada juga yang mengkritik pemerintah. Perubahan sistem sosial dan politik di negeri ini, ternyata berimbas pula pada luaran yang dibuat oleh TVRI.

Pada konteks ini, maka keberadaan TVRI diatur dan ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan, UU No. 32/2002 jelas menyebut itu. Artinya kehidupan TVRI dijamin dan tidak akan pernah mati. Pola hidup TVRI bukanlah untuk mencari keuntungan secara bisnis, tetapi untuk kesatuan dan persatuan bangsa. Tidak boleh memikirkan untung rugi, jika kita bicara aktifitas di TVRI. Itulah sebenarnya semangat yang dibangun dan semangat yang membentuk TVRI.

Akan tetapi, realitas tidak bisa pula dipungkiri. Teori klasik tentang komunikasi sudah berkata, percuma kita menyampaikan informasi, membuat hiburan, menciptakan acara-acara tertentu, jika tidak ada yang melihat atau mendengarnya. Sesuatu yang baik, sesuatu yang luar biasa, bahkan sesuatu yang sangat bagus, tidak akan ada artinya apa-apa jika tak ada yang tak tahu karena tidak melihat atau mendengarnya. Itulah yang kerap dialami TVRI. Ia tetap hidup, tetap bersiaran, tetapi apakah ditengah-tengah gempuran dan gegap gempita stasiun swasta, acara TVRI masih ada yang melihat?

Oleh karena itu, di tengah usianya yang terus bertambah, tahun ini sudah sudah 44 tahun (khususnya TVRI Sumsel), gerakan pembenahan dan perubahan terus dilakukan. Saat ini, TVRI sudah bukan lagi seperti mobil kuno yang mengejar mobil-mobil keluaran terbaru. Berbagai modernisasi terus digenjot, aturan-aturan hukum juga semakin diperlonggar, dan ruang gerak TVRI semakin lincah. Teknologi streaming sudah dikenal, sehingga siaran 24 jam sudah bisa dilakukan. Terobosan dengan membuat aplikasi mobile versi android juga dibuat. Artinya kemampuan untuk mencapai pemirsa sedekat mungkin sudah dilakukan. Saya pikir, dibawah kepemimpinan Usrin Usman kali ini, inovasi-inovasi di TVRI Sumsel sudah on the track. Untuk urusan updating teknologi, saya pikir TVRI Sumsel tinggal melanjutkan saja.

Aspek yang masih harus dibenahi adalah soal content. Ini memang bagai pisau bermata dua. Di satu sisi keterikatannya untuk tetap menjaga marwah keIndonesiaan, jadi tanggung jawab yang tak bisa dihindari. Di sisi lain, gempuran budaya massa terus menguat melalui berbagai media, baik oleh stasiun TV swasta, media online dan sebagainya. Sementara masyarakat sendiri terus bergerak menggunakan aplikasi seluler, menjadi pemberita sendiri. Alhasil, TVRI (termasuk TVRI Sumsel) bagai berlayar di lautan luas yang penuh gelombang. Bendera harus ditegakkan, pulau harus dijaga, kebangsaan harus diikat, nasionalisme harus dikukuhkan, sementara dayung tak mencukupi, apalagi BBM yang terbatas. Bersiasat, berstrategi, berjibaku, tampaknya masih harus dilakukan. Pondasi dari semua itu adalah komitmen, komitmen keIndonesiaan. Inilah marwah TVRI, termasuk TVRI Sumsel.

Saat ini, di bawah nakhoda baru, HelmyYahya, TVRI agaknya akan segera berbenah diri. Pembenahan yang dilakukan selama ini akan diperkuat. Janji Helmy yang utama adalah membuat TVRI lebih kekinian, artinya mengikuti bagaimana dinamika di masyarakat belakangan. Re-branding akan dilakukan, termasuk melakukan re-packaging. Janji Helmy ini yang sekarang sedang ditunggu. Saya menyambut positif apa yang dijanjikan tersebut, sepanjang marwah keIndonesiaan tetap dipegang teguh. Untuk hal ini, kita pantas percaya dengan sosok Helmy Yahya, pria asli Sumsel, yang notabene juga ikut dibesarkan oleh TVRI dulu.

Re-branding dan re-packaging adalah dua hal penting. Kuncinya adalah pada kreatifitas dan komitmen. Profesionalitas SDM akan mempengaruhi besar terhadap hal ini. Tidak perlu membalikkan asumsi bahwa TVRI sebagai televisinya orang tua menjadi televisi orang muda, tidak mesti begitu. Yang dibutuhkan justru adalah TVRI untuk semua kalangan. Hanya kemasan (packaging) tentu harus dibarui, setidaknya menjadi kemasan jaman now lah.

Jika ditelisik, banyak materi-materi acara yang menjadi hak cipta TVRI zaman dulu, yang kualitasnya tak bisa diragukan lagi. Tentu masih ingat bagaimana kuatnya daya pengaruh film “Sengsara Membawa Nikmat, Salah Asuhan, Siti Nurbaya”, atau berbagai film-film nasional lainnya. Tak bisa dilupakan juga bagaimana antusiasnya menyaksikan “Losmen, ACI, Rumah Masa Depan, Pondok Pak Jon, Si Unyil”. Begitu juga dengan acara-acara hiburan, maupun drama impor, seperti Little House on the Prairie dan Oshin.

Sebenarnya film-film tersebut, jika dikaji, tidak mengikuti trend dizamannya. Justru sebaliknya, ada perbedaan antara realitas di masyarakat dengan film yang ditayangkan. Tetapi toh masyarakat menyukai. Aspek kualitas pembuatan dan skenario yang kuat, kiranya itulah kunci utama. Sekarang, ini yang kita tunggu, yaitu bagaimana TVRI menyuguhkan berbagai informasi dan tayangan yang tidak mesti mengikuti arus budaya massa yang ada, tetapi tetap bisa menggaet pemirsa. Kita yakin dengan komitmen dan profesionalitas serta sumber daya yang luar biasa ada TVRI, semua akan terwujud. Marwah itu akan segera kokoh kembali. Selamat Ultah TVRI Sumsel.(*)

Tidak ada komentar