Info Berita dan Pemasangan Iklan

Info Berita dan Pemasangan Iklan Hubungi : 0812 7296 12 11 (WA) Instagram : beritasumsel_com (DM)

Paslon Akbar Alfaro-Hernoe & Sarimuda-Rozak Tampil Memukau *


BERITA-SUMSEL. COM, Palembang - Secara obyektif harus diakui  bahwa dalam acara debat kandidat walikota dan wakil walikota Palembang, paslon Sarimuda-Rozak dan Paslon Akbar Alfaro-Hernoe tampil lebih menonjol ketimbang paslon lainnya. Paslon nomor urut 1 yang juga merupakan petahana –walaupun telah mengawali penampilan nya dengan baik – namun terlihat terteter di segemen berikutnya. Bahkan ada kesan petahana membiarkan dirinya menjadi sasaran tembak alias bulan-bulanan dari paslon lawan. Ditambah Fitrianda yang berkali-kali mencoba memberi tambahan penjelasan namun dengan melanggar batas waktu yang diberikan. Paslon 4 juga hampir tak berbeda jauh. Penjelasan yang terlalu banyak berputar-putar dan mengulang mengakibatkan konten pesan yang ingin disampaikan menjadi tak jelas. Belum lagi beberapa kali paslon nomor urut 4 terlihat keliru dalam memahami konsep yang diajukan penanya. Seperti tentang indikator IPM yang ditanyakan paslon nomor urut 1 yang dijawab dengan penjelasan berulang tentang ASN oleh paslon nomur urut 4. Juga jawaban Saidina Ali paslon nomor urut 4 yang menyebutkan bahwa taxi online termasuk moda transportasi massal menunjukkan kegamangan paslon ini dalam menghadapi acara debat ini. Boleh jadi menunjukkan kurangnya persiapan.

Dalam hal cara penyampaian seperti akses, intonasi dan power suara, Akbar Alfaro terlihat paling menonjol. Mengejutkan – Akbar Alfaro yang praktis merupakan paslon paling muda dan minim pengalaman di bidang pemerintahan mampu menyampaikan pesan-pesan tentang program-program nya dalam nada suara yang tegas, lantang danlugas serta tidak terlihat membaca. Sebaliknya paslon Sarimuda-Rozak walaupun tidak terlalu menonjol dalam cara penyampaian tapi berhasil menyampaikan pesan-pesannya secara lebih lengkap dalam acara debat ini. Paslon Sarimuda-Rozak mampu memanfaatkan waktu yang tersedia dalam acara debat ini untuk menyampaikan visi dan misi nya secara lebih konkrit dan terlebaorasi dengan baik. Paslon ini tidak hanya sekedar menyampaikan tentang visi Palembang Gemilang Darusalam yang ditunjukkan dengan infraastruktur yang baik, masyarakat yang sejahtera, tata kelola pemerintahan yang amanah, jujur dan bebas suap tetapi juga meberikan cara-cara untuk mencapai cita-cita tersebut memalui sejumlah program yang disampaikan berkali-kali dalam setiap segmen pada debat kandidat semalam (22 Juni ) disalah satu Hotel Berbintang di Palembang.

Debat Kandidat Setengah Hati

Kompetisi walikota-wakil walikota Palembang seharusnya menjadi kompetisi yang seru, mengingat kompetisi ini terjadi di ibukota propinsi Sumatera Selatan yang menjadi barometer kompetisi pimpinan daerah lainnya di propinsi ini. Karakteristik perkotaan yang ditandai dengan para pemilih yang rasional dan realtif memiliki tingkat pendidikan lebih memadai seyogyanya menyediakan akses yang luas terhadap visi, misi dan program yang akan diusung oleh para paslon. Debat kandidat seyogyanya merupakan media yang efektif untuk akses warga kota terutama para pemilih rasionalnya terhadap informasi visi, misi dan program-program yang diusung masing-masing paslon. Ironisnya, apa yang terjadi di pilwako Palembang tidak menggambarkan hal tersebut. Acara debat hanya dilangsungkan satu kali – bandingkan dengan beberapa daerah lain yang umumnya menyelenggarakan dua kali bahkan ada yang sampai tiga kali acara debat – dan itu pun dilaksanakan di ujung masa kampanye. Pesan apa yang dapat disampaikan dalam acara debat yang hanya satu kali ini jika dibandingkan dengan permasalahan kota yang kompleks. Artinya, debat yang sehrusnya dapat menfasilitasi paslon dan warga untuk berbagi informasi sekaligus komitmen paslon terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh warga kota jelas jauh dari harapan itu. Sejumlah pertanyaan dapat muncul akibatnya. Seperti, apakah karakteristik warga kota yang cerdas dan rasional tidak menjadi pertimbangan utama dari penyelenggara pilkada sehingga hanya menyelenggarakan acara debat ini satu kali dan itu pun di jelang akhir masa kampanye? Pertanyaan ini akan bertambah jika melihat disain panggung yang menyediakan podium mini dan pengeras suara yang melekat di podium sehingga kurang memberikan kesempatan kepada paslon yang kebetulan memiliki kemampuan panggung dan oratoris untuk memanfaatkan panggung. Jelas mereka tidak dapat menarik keuntungan dari kemampuannya tersebut. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah apakah ini disengaja untuk menguntungkan paslon tertentu? Tentu saja kecurigaan ini mungkin berlebihan. Tetapi yang paling jelas terlihat adalah tidak jelasnya efektivitas yang diharapkan dari penyelenggaraan debat ini hanya satu kali dan jelang akhir masa kampanye. Pesan-pesan programdari para paslon jelas tidak mungkin terelaborasi dengan lebih baik, Singkatnya, kesan penyelenggaraan debat yang setengah hati menjadi sulit terelakkan.

Satu hal yang paling menarik untuk dicermati dalam debat para calon walikota dan wakil walikota Palembang semalam adalah bagaimana petahana menfaatkan momentum acara debat kandidat tersebut. Posisi sebagai petahana tentu saja sangat riskan terhadap serangan para paslon lainnya. Sebenarnya, petahana yang merupakan calon walikota dan wakil walikota Palembang urutan no 1 telah mengawali debat dengan baik terutama dalam pemaparan visi misi. Harnojoyo – walaupun masih terlihat membaca naskah – menyampaikan visi dan misi nya dengan suara yang lantang, intonasi yang jelas dan teratur rapii. Sayang awal yang baik ini tidak bertahan lama. Di segmen berikut paslon nomor urut 1 terlihat gagap dalam menjawab pertanyaan baik dari panelis maupun paslon lawan. Menjawab pertanyaan tentang supremasi hukum yang diajukan panelis Dr. Ridwan, SH. Misalnya, paslon 1 malah menjawab berputar-putar tentang pentingnya pemahaman aparatur terhadap hukum yang mengatur tugas dan tanggung jawab aparatur dan tidak menjawab secara tegas tentang mengapa supremasi hukum dijadikan salah satu program dari paslon no urut 1 ini. Klaim keberhasilan yang disampaikan oleh paslon nomor urut 1 tak luput dari serangan yang diajukan paslon lain terutama paslon nomor urut 2 dan 3 yang intinya menyerang klaim keberhasilan dengan data yang menunjukan sebaliknya. Terhadap serangan ini sayang sang petahana tidak terlihat tegas dalam meng-counter serangan tersebut. Yang terjadi justru seolah-olah petahana mebiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan lawan. Singkatu kata, petahana gagal memanfaatkan secara optimal momentum debat kandidat iin, serta semakin menguatkan ketidak mampuan Paslon bernomor urut 1, selama menjabat sebagai Wako/Wawako, tidak begitu menguasai Peran, Fungsi, Wewenang & Tanggung jawabnya.Ironis nian Memang.

* Penulis : Bagindo Togar Bb
Pemerhati Politik/ Forum Demokrasi Sriwijaya ( ForDes)

Tidak ada komentar